Two World Collide

de ngaden awak bisa, depang anake ngadanin …

Mungkin hampir semua tumbuh dan besar di Bali pasti mengetahui tembang (Pupuh Ginada) ini. Lagu ini kalo diterjemahkan secara bebas, mengajarkan kita untuk tidak sombong akan diri sendiri. Jangan pernah mengira diri itu bisa (pintar), biarkan orang lain yang menilai sendiri. Begitulah kira – kira sebaris lagu itu kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Filosofi ini sudah diajarkan dan ditanamkan dari kita masih kecil (karena lagu itu memang untuk anak kecil) dengan harapan supaya kita bisa tumbuh menjadi orang yang tidak sombong, tidak ngaden awak bisa.

Yang menjadi tantangan adalah manakala kita yang tidak terbiasa menilai diri sendiri, dipaksa untuk menilai diri sendiri. Saya yakin kebanyakan dari kita akan memilih jalan tengah, the safest path, dengan memilih semuanya sebagai average. Kita takut kalau kita ambil estimasi optimis dengan memilih nilai yang tinggi, orang akan berkata kita sombong, sok pintar, sok jago dll. Tapi kita juga tidak mau mengambil estimasi yang paling rendah karena seolah – olah saya terlihat seperti menghina orang lain [1]. Dan jika kita terlalu merendahkan diri kita seolah – olah menjadi tidak menghargai diri kita. We also need to value ourself, need to love ourself. Dilema ini terjadi saat saya harus menghadap supervisor saya untuk performance review beberapa hari yang lalu.

Disinilah dua dunia yang saling bertolak belakang bertemu untuk pertama kalinya. Kalau menurut budaya bule disini, orang yang paling mengetahui tentang diri kita adalah kita sendiri. Jadi yang paling bisa menilai diri kita ya kita sendiri. Analoginya dengan contoh performance review, kalo kita menyerahkan semua penilaian kepada orang lain, maka mungkin saja dia akan memberikan kita nilai yang kecil – kecil supaya mereka tidak perlu menaikkan jabatan kita. Nah dengan keadaan begini, mungkin saja saat yang lain karirnya sudah meroket, kita masih tetap segitu – segitu saja dari dulu. Begitulah kira – kira cerita dari salah satu supervisor yang me-review saya hari itu.

Ini hanya satu contoh kecil betapa bertolak belakangnya dunia saya di Bali sana dan dunia saya di US&A ini.

Yang bikin tambah sulit adalah saya harus hidup di dua dunia yang berbeda ini. Two opposites culture, two different worlds and only one me.

 

[1] Bagaimana mungkin merendahkan diri bisa menjadi suatu bentuk egoisme Bli Cahya punya blog post yang menarik tentang hal ini.

13 thoughts on “Two World Collide

  1. blognya bli cahya itu bagus win..

    kita emang harus mampu menilai diri sendiri (dengan benar ya), dan jg harus mau terbuka menerima nilai dari orang lain.. keduanya hal yg bagus .. setuju..

  2. Sekali lagi membandingkan dengan budaya sini :

    mungkin hampir sama.
    “Paku yang menonjol harus dipalu” (biar rata dengan yang lain)

    ya artinya seseorang ndak boleh lebih menonjol daripada yang lain. semua harus sama rata dan sama rasa. tidak boleh ada kesenjangan sosial.

  3. cely, yup yup bagus emang blognya. ya kadang kita terlalu merendahkan diri dan ternyata itu juga bisa jadi sebuah bentuk egoisme kita. kita terlalu merasa inferior makanya kita jadi rendah diri dan akhirnya jadi egois deh hehehe …

    suna, parah ya di jepun sana hehehe … tapi sama rata gitu juga ada bagusnya. mungkin ga ada rasa iri ya … tapi jelek juga seh coz kurang mendukung inovasi dan pengembangan diri. iya ga seh?

  4. aku jg baca posting2 lain di blog bli chaya itu win.. kalo lg ada waktu luang, baca pake perasaan..hmm, bagus2 deh ceritanya… hehe..

    aku bingung ama maksud ini –> “Paku yang menonjol harus dipalu” (biar rata dengan yang lain)
    di jepun emang ada budaya gimana san?

  5. mmmm itu sih tergantung sama lingkungan juga sih. ada bos yang memang mendukung anak buah nya untuk maju. tapi masih ada budaya kental yang kalo ada anak buah yang terlalu menonjol pasti lebih dikerasin.

    memang budaya keras sih.

    >> cel: sepertinya sudah dijelaskan sama win ya ..

  6. owwww… baru mudeng…

    walah kasian bener di kantor menonjol kok malah dikerasin… hehe tapi disini suka ada kejadian begitu.. biasanya keras ke orang yang menonjol karena takut tersaingi kali ya..

    hmm, makin dipikir makin ruwet yah… yah, begini ini kali ya rasanya dunia orang dewasa… pengen jadi anak2 atau mahasiswa lagi deh hihihi……

  7. hahahahaha … dasar cely ini xixixixixi …

    aku pengen sma lagi seh hahahaha … kayaknya ga mikir banget pas sma yak.

    btw, postingan terakhir mungkin keluar beberapa hari lagi. dan aku bakalan mengasingkan diri ke hutan sampe waktu yang tidak ditentukan hahahaha …

  8. hahahaha … emang mikir apa pas sma sand? aku kayaknya ga mikir apa – apa seh pas sma. ga mikir masa depan … jadinya ya kayak gini luntang lantung dah …

  9. kalau sudah kerja sendiri, berdiri sendiri, yang bikin perbedaan besar adalah, hampir 100% semua keputusan ada di tangan kita… bener2 kendali ada di kita.. ya kayak aku misalnya, kerja.. ya kalo di kantor ada masalah atau gimana ya memang jd lebih pusing.. karena sudah harus bertanggung jawab dengan hidupku sendiri… atau contoh temenku, masalah rumah tangga.. ya sudah besar sudah berkeluarga, jd ada beban itu juga…

    aku jg ga seneng2 banget sama masa sma sih… tp kalo skrg sudah kerja gini, suka kangen masa2 itu, karena di masa2 itu waktu luang kita cukup banyak ya… daripada sekarang neh, isinya cuma bangun, berangkat, macet, kerja, macet, pulang, syukur2 ada waktu buat nge-blog, tidur lagi >.<

  10. beh.. Win,

    di Bali jak di Scandinavia patuh gen..

    http://en.wikipedia.org/wiki/Jante_Law

    There are ten different rules in the law as defined by Sandemose, but they are all variations on a single theme and are usually referred to as a homogeneous unit: Don’t think you’re anyone special or that you’re better than us.
    The ten rules are:
    1. Don’t think that you are special.
    2. Don’t think that you are of the same standing as us.
    3. Don’t think that you are smarter than us.
    4. Don’t fancy yourself as being better than us.
    5. Don’t think that you know more than us.
    6. Don’t think that you are more important than us.
    7. Don’t think that you are good at anything.
    8. Don’t laugh at us.
    9. Don’t think that anyone of us cares about you.
    10.Don’t think that you can teach us anything.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s