Kebebasan Pun Berduka

Hari ini, disaat semua orang bersuka cita menyambut kedatangan tahun baru, Indonesia kehilangan salah satu anak terbaik yang pernah dilahirkan bangsa ini. Tokoh negara nyeleneh, tokoh negara yang tidak mendapatkan pujian yang layak dia terima. Gus Dur adalah seorang pemimpin yang berani melawan arus, tidak seperti pemimpin negara kita yang lainnya yang hanya bisa menangis (air mata buaya) ato malah menyanyi [1].

Salah satu sepak terjang beliau dalam masa kepemimpinan beliay yang akan selalu saya ingat adalah saat – saat dimana beliau berusaha mencabut TAP MPRS No 25/1966 dan upaya rekonsiliasi dengan korban pelanggaran HAM tahun 1965. Sejarah Indonesia di tahun 1965 – 1979 adalah masa – masa kelam yang berusaha dikubur dalam – dalam oleh petinggi – petinggi Indonesia. Tidak ada yang berani membuka atau mengusik peristiwa tahun 1965. Semua sejarah tentang peristiwa tahun 1965 bersumber dari satu versi, versi Orde Baru yang dipimpinan oleh (ALM) JURAGAN CANDU [2]. Bahkan membicarakannya pun tidak ada yang berani karena adanya TAP MPRS No 25/1966 ini.

TAP itupun akhirnya menjadi senjata bagi pemimpin – pemimpin Orde Baru untuk melakukan berbagai tindakan pelanggaran HAM. Di antara berbagai pelanggaran HAM yang paling jelas-jelas menyolok antara lain : pembunuhan besar-besaran tahun 1965/1966 yang memakan korban lebih dari satu juta orang yang tidak bersalah, penahanan ratusan ribu anak bangsa (tapol golongan A,B dan C) tanpa pengadilan, konsep bersih lingkungan, KTP yang bertanda ET.

Upaya Gus Dur untuk mencabut TAP ini jelas dianggap nyeleneh dan sudah tentunya mendapat tentangan dari berbagai pihak. Dan semuanya berakhir dengan dicungkilnya Gus Dur dari kursi kepresidenan. Entah apa alasannya saat itu, tapi saya yakin, hal yang ada diatas pasti menjadi salah satu alasannya. Petinggi – petinggi kita fikirannya sudah dikeruhkan oleh perhitungan untung – rugi demi kepentingan politik atau kedudukan. Politik di Indonesia sudah seperti bisnis. MPR / DPR yang kita miliki hanyalah kumpulan teman – teman dekat atau sanak famili yang hanya bisa nyanyi lagu setuju (Iwan Fals) [3]. Gus Dur pun akhirnya digantikan oleh Megawati. Saya sebenarnya punya harapan besar kepada dia mengingat dia adalah putri dari Bung Karno. Setidaknya yang bisa dia lakukan adalah merehabilitasi nama Bung Karno [4], tapi ternyata dia tidak melakukan gebrakan apapun dan melempem total sampai akhir kepemimpinannya [5].

Akhir kata, selamat jalan Gus Dur.  Semua usaha anda tidak akan pernah saya lupakan. Semoga arwah anda diterima dan mendapat tempat yang pantas disisi-Nya.

Hari ini Indonesia menangisi kepergian anda dan keadilan pun turut berduka.

 

 

[1] Kita tidak butuh presiden yang pintar menyanyi, ingat anda bukan artis / penyanyi / bintang sinetron. Anda adalah pemimpin negara yang [seharusnya bisa] membawa negara kita ini menuju kearah yang lebih baik.

[2] Tulisan tentang juragan candu ini amat sangat menarik sekali. Salah satu blog post yang paling saya sukai. Jadi silakan baca juga tulisan itu, terutama bagi anda yang berpikir bahwa Orde Baru adalah masa – masa terbaik bangsa Indonesia

[3] Well, mereka sebenarnya mereka punya banyak skill seh. Skill tidur saat rapat, skill membaca koran saat rapat, skill sms-an ato telpunan saat rapat. Ini adalah skill yang sangat langka sekali. Sayapun tidak yakin bisa tidur saat rapat dan tetap bisa menghasilkan sebuah ketetapan / keputusan saat sidang.

[4] Bung Karno meninggal sebagai tahanan rumah. Perhatikan kata tahanan rumah disana, setidaknya Megawati harusnya bisa men-strip kata tahanan rumah disana.

[5] Karena Megawati mencungkil Gus Dur dari kursi kepresidenan, Gus Dur akhirnya gagal mencabut TAP MPRS No 25/1966 dan melakukan rekonsiliasi nasional. Ternyata kepemimpinan Megawati saat itu amat sangat melempem sekali setelah itu dan mengingat saya jadi tertahan di Perumnas Monang Maning karena pendukung PDI-P demonstrasi karena Megawati gagal jadi presiden setelah PDI-P mendapat suara lebih banyak, maka saya harus mengacungkan jari tengah saya untukmu dan partaimu. Kamu tidak akan pernah mendapatkan suara saya di Pemilu kapanpun.

3 thoughts on “Kebebasan Pun Berduka

  1. Tulisan bagus Win😀, kemarin rumahku satu2xnya rumah yang memasang bendera setengah tiang di perumahanku. Walau saya tidak sreg sama gus dur, saya tetap pengen menghormati jasanya. Aku juga mikir kalo Pak Harto keren hanya saja gagal di akhir cerita karena di tengah cerita kurang sabar😀.

    • huaaaaa … ada rosa, my old pren yang sudah sukses sekarang. gimana kabarnya?

      wah sip banget dah mengibarkan bendera setengah tiang. rasanya kita sudah lama banget yach ga melakukan hal ini buat seseorang. apakah kita kurang menghargai orang lain? ato cuman saya sajah yang merasa seperti ini?

  2. Mau nanggapin poin no 5, Win.

    Ngapain ikut pemilu? Perbaikan? Hihihi, perbaikan ekonomi penguasa yg ada, rakyat sih tetap jadi obyek penderita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s