Older Means Older

Gara – gara tulisan saya yang terakhir kemaren, ada yang nanya – nanya umur saya. Saat saya jawab umur saya baru 17 tahun (bukan umur sebenarnya), orang tersebut mengatakan kalo saya masih terlalu muda untuk bicara masalah hidup. Saya masih belum dewasa, masih bau kencur dan belum mengalami pahit manisnya kehidupan secara menyeluruh. Nanti saja ngomong masalah kehidupan kalo sudah cukup merasakan asam gara kehidupan, lanjutnya. Sayapun kemudian jadi bertanya – tanya, apakah tolak ukur kedewasaan seseorang? Bisakah kita menilai seseorang itu sudah dewasa atau belum?

Pendapat saya pribadi, kedewasaan seseorang itu tidak terukur, sangat relatif dan sangat tergantung pada situasi dan kondisi orang itu. Jadi kedewasaan seseorang buat saya tidak selalu berbanding lurus dengan umur seseorang.

Saya kenal seseorang yang umurnya baru 27 tahun, tapi cara berpikirnya sudah sangat dewasa sekali like way ahead of his age. Dia sudah memiliki pekerjaan yang mapan, sudah memikirkan membeli rumah sendiri, bagaimana dia akan menghidupi istrinya dan anaknya nantinya, bagaimana dia mempersiapkan pendidikan buat anaknya kelak (dari nada – nadanya, dia bakalan merit dalam waktu yang ga begitu lama seh). Intinya dia benar – benar sudah menata kehidupannya sebaik – baiknya. Plan for the best and prepare for the worst, that’s his style.

Tapi ada juga orang yang umurnya sudah hampir 36 tahun tapi kelakuannya (dan sepertinya masih pengen) seperti anak berumur 17 tahunan. Masih belum menikah, masih suka kebut – kebutan di jalan, masih suka mabuk – mabukan dengan anak – anak yang umurnya jauh dibawah dia. Pagi – pagi menghilang dan pulang udah larut malam. Kerjaan tetap belum punya dan sepertinya tidak ada usaha untuk mencari pekerjaan tetap itu.

Lalu mengapa orang senang mengaitkan umur dengan tingkat kedewasaan seseorang? Menurut saya, disinilah sifat deterministik otak ditambah dengan asumsi (yang tidak selalu benar) bermain didalam otak manusia. Orang – orang mengasumsikan bahwa orang semakin tua akan semakin banyak mengalami pengalaman – pengalaman hidup yang dapat mendewasakan orang itu. Asumsi ini tidak selalu benar (lihat contoh 2 diatas). Orang akan menjadi lebih dewasa dengan bertambahnya umur dia kalo dia bisa belajar dari pengalaman – pengalaman hidup yang dialaminya dan mampu mengambil hikmah dari pengalaman itu. Dengan begitu orang akan semakin bijak dalam menjalani hidupnya dan akhirnya orang itupun akan menjadi dewasa.

So, for me, semakin tua seseorang hanya berarti semakin tua saja. Semakin tua tidak lantas berarti orang akan menjadi lebih bijaksana. Older means older, but older doesn’t always mean someone will get wiser in their life.

7 thoughts on “Older Means Older

  1. hehe, secara fisik umur boleh nambah ya, tapi di dalamnya belum tentu sama dengan nilai umur fisiknya..

    setuju banget soal tulisanmu tentang otak dan asumsi.. otak itu bisa membantu manusia, tapi belum tentu bisa diandalkan untuk menilai sesuatu.. sekilas orang yang memiliki logika bagus akan terlihat seperti lebih baik.. tapi kepintaran yang berlebihan akhirnya cuma membuat ego makin besar aja.. akhirnya makin jauh dari jalan “pulang” (ke atas sana..)

    topik soal otak ini udah topik baru lagi nih win..enak ya, topic blogmu bisa dikembangbiakkan.. bikin posting baru lagi soal otak dong😀

  2. hehehe … yup, otak terlalu deterministik kadang – kadang. susah menilai sampe kedalam kalo otak mah. kita kan cuman menilai secara persepsi sajah hehehe … kita liat ajah nanti kalo aku lagi ada ide or ada orang yang protes lagi hehehehe …

  3. umur adalah masalah physical aja. sedangkan kedewasaan masalah mental.

    dalam circumstances tertentu, kedewasaan tercipta seiring bertambahnya usia, akan tetapi tidak bersifat mutlak. contohnya saya:

    umur saya 30 tahun, merit dengan 2 kids. tapi almost semua family member bilang saya belum dewasa secara mental….

    nah kebalikannya begini: diluar rumah saya selalu dikira masih abg/anak sma. jika masuk ke kantor/bank/dokter selalu panggil adik, dik sini dik..mo cari kredit ditanya bolak balik apa benar ini sertifikat atas nama sendiri, mo cari asuransi mobil ditanya bolak balik apa ini benar bpkb atas nama sendiri……brengsek…saya sampe3 harus piara kumis dan jenggot biar kelihatan wayah.

    halah kok jadi curhat ya hahah

  4. hahahaha … betul sekali bli devari. kenken kabarnya ne bli? sudah balikkah ke tci? wuih keras sekali kehidupan bli ya. susah memang punya baby face bli.

    iya, setuju sekali bli. umur memang tidak berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan berpikir seseorang🙂

    umur adalah sesuatu yang bisa diukur, makanya orang cenderung menggunakan umur sebagai tolak ukur kedewasaan seseorang.

  5. Wah ikutan dong Bos, ni bengong melulu nggak ada idea. Baru mudik kerja di kampung nungguin monyet di Monkey Forest sambilan jaga pameran. Nyak masi nah baca2 gen malu. Lanjut bli dengan tulisannya. Tks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s